29 April 2014

Madu Meleleh di Bawah Cahaya Rembulan


Koper dan ransel bervolume 40 liter dikosongkan. Yang dibawa hanya beberapa lembar baju ganti, celana selutut, sandang dalam, dan sebuah kamera entah berlensa apa. Kereta berjalan perlahan meninggalkan kota yang mulai bernuansa merah flamboyan. Dia duduk di dekat lorong, sedangkan istrinya, ya istrinya, duduk di sebelah jendela. Percakapan setengah nada. Tak elok bersuara keras di muka publik, lagi pula malam mulai merambati lorong kereta.

Seminggu yang lalu dia telah berhasil merebut perempuan yang duduk di sebelah dari tangan orangtuanya. Dari bermilyar yang ada, hanya perempuan itu yang akhirnya bersedia menemani siang-malamnya, panas-dinginnya, dan segala yang permanen di dirinya. Rayuan hanyalah riasan menor yang dilekatkan pada kanvas putih. Istrinya tahu itu, tapi ia juga serupa kembang gula yang bermanfaat menumpas segala pahit di rongga mulut.

Dia, dan juga istrinya, belum paham apa yang pernah ditulis Eco tentang Tamasya Dalam Hiperealitas. Malam itu keduanya membicarakan Umberto Eco, Ali Syariati, Camus, Tolstoy, dan Murakami. Membacai arus budaya dan cerita adalah kembang yang bermekaran sejak pagar berdiri kokoh dan akhirnya roboh. Tak mudah bagi radar menemukan penyusup yang bergerak melintas batas demarkasi, maka pertemuan dengan istrinya—dulu, kini, dan nanti—adalah sesuatu yang patut disyukuri, dia tahu ihwal itu.

Sementara organ pendengar berbagi awan-awan gloomy dari musikalisasi puisi Sapardi. Lampu redup, dan kereta terus melaju konstan dalam pelukan malam, maka nikmat mana lagi yang akan mereka dustakan? Istrinya tahu belaka, dia seperti punya kebiasaan akut: sedang berduaan pada suasana romantik sekalipun, dia selalu berbicara tentang kawan-kawannya. 

“Mereka sudara-sudara saya,” begitu katanya. Ya, sodara-saudara-sudara: kata itu berasal dari se-susu dan se-darah. Maka ritus perkawanan sesungguhnya melebihi jargon solidaritas dan kekariban. Ada perasaan intim yang melekat di lereng ingatan, tentang kenangan, impian, ambisi, cita-cita, maupun masadepan yang tengah dan telah dibangun. Kontra definisi terjadi ketika ritus itu akhirnya bergradasi dan kabur. Hidup seperti melesat pada rel dan gerbong yang berlainan dan tak saling kenal. Itu kekhawatirannya. Maka sedapat-dapat, pada istrinya, dia kerap berbicara tentang sudara-sudaranya. Tentang brother dan ikhwah-nya.

Di Yogja, para kamerad perbukuan telah menunggu mereka. Di sebuah station radio berjejaring sosial mereka siap mengudara dan diarsiapkan: inilah honeymoon pertama berbumbu labirin kata-kata.
Kubiarkan cahaya bintang memilikimu. Kubiarkan angin yang pucat dan tak habis-habisnya. Gelisah tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu. Entah kapan kau bisa kutangkap….
Kata-kata Sapardi menemani mereka tidur.

***

Muhidin namanya. Dia seorang kerani, dia adalah yang mula-mula menyambut sepasang suami-istri baru itu. Kopi dihidangkan dan pembicaraan datang bergelombang, seperti kawan lama yang baru bertemu kembali. “Bung dan nyonya sudah siap?” kata produser yang datang tiba-tiba. Seorang penyiar muda dan cantik sudah menunggu. Si Bung yang baru punya istri itu panggil saja Fidel. Dan acara dimulai, laku literasi mereka utarakan. 

“Belum terlampau lama sebetulnya, ada sekira enam bulan sebelum saya mengambil perempuan ini dari bapaknya.”

Mulanya Fidel hijrah ke Cibitung, melaksanakan kewajiban. Dia memilih pekerjaan yang lebih baik. Kemudian di tengah segala urusan kantor, dia membereskan kembali buku-bukunya yang berjumlah lima box besar, entah berapa judul, dia lupa menghitungnya. Kontrakannya dekat pohon mangga yang rimbun, tak jauh dari mesjid. Anak-anak tetangga menelan masa kanak dengan gembira. Sebelum dan setelah sholat mereka bermain di pekarangan mesjid. Gaduh memang, namun harap maklum, begitulah laku anak-anak, kewajibannya hanya bermain. Sekolah sesungguhnya adalah sampingan, hanya mengisi waktu luang di pagi hari, biar tidak diledek burung dan ayam jantan yang bersahutan sedari pagi.

Apakah anak-anak itu suka membaca buku? Sekali waktu Fidel bertanya pada dirinya. Namun kemudian ada sedikit keluh, dia tak punya barang sebiji pun buku cerita anak-anak. Kalau buku-buku politik dan novel dewasa dia punya banyak, tapi apa gunanya buku-buku demikian bagi jiwa bocah yang sedang rakus menelan jatah hidup gembira? Namun tak lama kemudian lampu terang menyala dalam kepalanya; dia hendak mendongeng saja. Maka sekali waktu, sehabis sholat, dia duduk dulu di teras mesjid. Seorang bocah duduk di dekatnya, istirahat dari berlari-lari. “Kamu mau mendengarkan dongeng alien yang berkelahi dengan keong racun?” Percobaan pertama gagal, bocah itu menggeleng sambil tersenyum, dan berlari lagi mengejar temannya.

Tak lama datang lagi seorang bocah. Percobaan kedua, “Kamu tahu bajak laut?” Ada anggukan. Kemudian menyusul, “Tahu ga kalo bajak laut itu sebenarnya bukan manusia, tapi burung pemakan bangkai?” Diam. “Kamu mau mendengarkan ceritanya?” Bocah pergi. Percobaan kedua gagal.

Mendung menyerang, langit seperti orang yang belum mencuci muka. Awan gelap bergulung-gulung. Hujan membubarkan anak-anak yang sedang bermain di pekarangan. Fidel beringsut ke dinding mesjid, hampir menempel dengan jendela. Lupakan bocah-bocah miskin imajinasi itu, karena waktu menendangnya ke minggu ketiga di pekerjaan baru.

Ke Krawang dia hanya lewat, namun ke Bekasi (akhirnya) sering datang. Namun dia tak pernah menjumpai Chairil yang menyadur Krawang-Bekasi. Kalaupun penyair bohemian itu masih hidup dan tak pernah tua; paling sedang sibuk mengunjungi gadis-gadis seperti kelakuannya dari dulu. Usia 27 memang terlampau muda untuk meninggal dunia, Chairil tahu. Dan dia kalah terlalu dini, sebelum (barangkali) beberapa maksud sempat diucapkan. “Hidup hanya menunda kekalahan. Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan. Sebelum pada akhirnya kita menyerah”

Seperti air yang mengalir dan berhenti pada sebuah ceruk, cinta juga rupanya diciptakan demikian. Selalu ada halte terakhir yang mendorong kondektur bus untuk membangunkan penumpang yang pulas tertidur atau sibuk dengan gadgetnya. Dalam kedaulatan sepasang manusia yang telah berikrar, bus yang berhenti kemudian melaju lagi membawa dua planet besar, memikul dua ego yang dijaga bersama agar tidak saling bertabrakan. Maka demikianlah, pada sebuah petang yang biasa, Fidel (akhirnya) bertemu dengan perempuan itu.

“Bukan. Saya bukan asli Bekasi. Ari-ari dan banyak kenangan masa kecil ditanam di Bandung. Pekerjaan ayah yang membawa saya ke sini.” Fidel hanya diam. Perempuan itu meneruskan, “Suatu saat saya akan kembali ke Bandung, ke cinta yang sesungguhnya.” Shock therapy pertama. Apa maksudnya dengan ‘cinta yang sesungguhnya?’ Sementara harapan tengah ditabur dan ditanam kepada perempuan itu. Begitulah kodratnya, laki-laki mesti diberi tantangan, seperti layangan yang terbang menentang angin.

Pendek kata panjang perihal, setelah menaklukkan tantangan yang tak sedikit, Fidel akhirnya berhasil merebut perempuan itu dari ayahnya. Enam bulan sebelum ikrar yang teguh diucapkan, Fidel pernah meminta, “Saya belum mampu menjinakkan anak-anak di sekitar kontrakan, kau tentu mau membantunya, bukan?” Hanya dibalas anggukan. Dalam darah yang mengalir di diri perempuan, selalu ada rumah-rumah kecil yang imut milik para kurcaci, juga ada sekawanan liliput yang tengah menggotong seorang putri cantik yang hendak diculik raja zalim, namun kemudian diselamatkan pangeran berkuda putih. Ya, dengan caranya sendiri perempuan seringkali pandai menaklukkan bocah-bocah yang liar sekalipun.

Maka buku-buku kemudian ditata ulang, cerita-cerita anak yang sebelumnya tiada berangsur dikumpulkan. Perempuannya mendongeng, ada juga sebagian anak yang duduk di teras sambil membaca, sementara Fidel sibuk membuat bangku dari kayu demi disimpan di bawah pohon mangga yang semakin rimbun. Istri Fidel tentu punya nama, tapi saya tak mau buru-buru menyebutnya, sementara ini cukup dengan ‘perempuan’ saja.


Laju literasi menggoncang kampung sejak Fidel mengenal perempuannya. Dan kini setelah menjadi istri, bendera semakin tinggi dan berkibar.

***

“Besok lusa atau entah kapan, kalau Bung sudah pulang, pastikan kita tetap berkabar, ya.” Kemudian mereka bersalaman. Fidel dan istrinya kembali ke penginapan, meninggalkan Muhidin dan para kerani perbukuan.

Tidak langsung pulang ke penginapan sebenarnya, sebab lihatlah mereka tengah menyusuri Malioboro, lalu singgah di tenda roti bakar. Di kota yang terlanjur manis oleh cerita-cerita, lima orang pengamen kemudian menghampiri. Beberapa lagu lama dibawakan untuk ditukar dengan sedikit uang. Ada pelangi yang tak hendak beranjak dari langit jiwa pasangan itu, namun saya tak pandai menggambarkannya.

Menjelang dini hari mereka pulang. Di balkon, masih tersisa percakapan setengan nada; tentang sahabat, buku, dan madu. Ada waktu yang bergelombang di belakang, ada jejak yang terserak di setapak jalan yang telah masing-masing lalui. Cinta yang menenteramkan adalah yang mampu memasukkan masalalu ke dalam karung, diikat dan disimpan di gudang. Detak detik tak berjalan surut ke belakang, sementara kehidupan melaju ke depan mendekati titik akhir. Itu normatifnya. Namun siapa yang kuat ketika visual-visual masalalu yang bertentangan dengan suasana jiwa tiba-tiba menghampar di kepala? Pada sebuah titik akhirnya Fidel dan istrinya bersepakat untuk bersama-sama tak pernah membuka ikatan karung yang telah disimpan di gudang. Dan percakapan dilanjutkan di tempat tidur, dengan lebih lirih tentu saja.

Ketika pagi kembali datang, mereka kembali menikmati suasana kota. Yang paling lama menenggelamkan tentu saja pusat penjualan buku. Itu rumah mereka, bau kertas mencucuk hidung dan perasaan yang lepas menderas, larut bersama kata-kata. “Sayang, sudah sore. Hendak ke mana kita setelah ini?” Tarikan tangan adalah ajakan mencegat mobil bak terbuka yang hendak pergi ke selatan: arah pantai.

Maka demi kota yang tengah mandi cahaya, mereka terlentang di atas mobil bak terbuka dan pandangan tegas ke langit. Madu memeleh di situ, di bawah cahaya rembulan Yogya. [irf]

23 April 2014

Surat untuk Hisanori Kato

Kato San yang baik,

Apa kabarmu sekarang? Sejak terakhir kali kita bertemu di Transjakarta arah Tanjung Priok itu, rasa-rasanya waktu telah melebarkan sayapnya.

Belum berlalu lama tentu saja, tapi sejak pertemuan terakhir di tahun 2011 itu, jarak yang membentang telah membawa saya ke warung roti bakar sendirian. Tak ada lagi obrolan-obrolan kita yang membicarakan banyak hal. Penjual roti bakar pun kini telah berganti, dan mulai sepi pengunjung. 

Apa yang kamu khawatirkan perlahan mulai menjadi kenyataan, selain anak-anak muda, orang-orang tua yang dulu sering kita jumpai pun mulai beralih ke convenience store yang lampunya menyala terang hampir menyilaukan mata. 

Benar katamu, apa enaknya melakukan transaksi jual beli hanya dengan bantuan mesin pembaca barcode, dan menerima  ucapan “terima kasih” dari pelayan yang tanpa ekspresi?

Sambil menyeruput kopi hitam dan menyantap roti bakar rasa coklat, saya saat ini sesungguhnya tengah menikmati cuaca Jakarta yang basah karena hujan. Pohon-pohon yang dulu kamu sukai, kini benar-benar telah berkurang, habis dimakan pembangunan gedung-gedung berpendingin. 

 Meskipun memang kota ini pada dasarnya panas karena berada di pesisir pantai, namun kehilangan pohon dengan begitu massif membuat panas menjadi berlipat-lipat. Maka syukurlah, hujan membuat kota ini menjadi lumayan sejuk. Di kotamu sendiri bagaimana?, apakah hujan sedang turun? Ah maafkan saya yang tidak hafal siklus musim di negaramu.

Kato San, hari Rabu pada tanggal 1 Januari 2014 kemarin, saya hendak pergi ke toko buku yang berada di jalan Matraman. Di halte Senen saya transit dan menunggu bus yang hendak pergi ke arah Kampung Melayu. Rupanya pengalamanmu yang pernah kau ceritakan itu berulang pada saya. 

Katanya semalam, dalam rangka menyambut malam pergantian tahun, bus ini beroperasi 24 jam, sehingga pada siang hari armadanya sangat terbatas, mungkin para sopirnya masih mengantuk atau ada alasan lain, saya tidak tahu. Tapi yang pasti bus sungguh lama datangnya. 

Saya tunggu hampir satu jam, namun bus itu tak kunjung datang juga. Maka dengan kesal saya tinggalkan halte dan setengah berlari mengejar angkot jurusan Senen-Kampung Melayu. Tak lupa saya melambaikan tangan kepada para calon penumpang yang masih sabar menanti kedatangan bus yang entah kapan datangnya. Kau kan masih ingat pengalamanmu itu, bukan?

Apakah kau merindukan saat-saat mengamen di bus jurusan Blok M-Kota? Ya, waktu kau dan kawan Jepangmu mulai berteriak, “kami datang dari Jepang, silahkan dengarkan lagu-lagu kami.” Maka saat lagu selesai dan mereka dengan antusias bertepuk tangan dan hampir semuanya memberimu uang, apakah kau berpikir bahwa orang Indonesia memang ramah dan sangat bersahaja-berkawan? Ah, jangan terlampau yakin. Sikap kami, orang Indonesia ini, kepada orang asing memang selalu begitu. Tapi kepada bangsa sendiri, kadang-kadang, jika ada yang ngamen kami langsung pura-pura tidur.

Saya menulis surat ini sambil mendengarkan permainan piano Jaya Suprana membawakan lagu-lagu Ismail Marzuki. Apa kamu tahu musisi yang satu itu, Kato San?. Atau kamu hanya pernah mendengarkan lagu Ondel-ondel Benyamin Sueb saja selama di Jakarta dulu? Hehehe…

Oh iya, sehabis pulang dari toko buku saya mampir dulu di warung nasi Kapau yang ada di Simpang Lima Senen. Barangkali kau pun pernah makan di sana? Kalau belum pernah, biar saya ceritakan sedikit. Lauk pauk-nya sungguh enak, rasanya pun mungkin cocok dengan lidahmu yang kurang menyukai rasa manis seperti makanan Jawa. 

Ya, tentu saya masih ingat dengan ceritamu waktu kau mengunjungi Yogyakarta dan untuk pertamakalinya  menyantap Nasi Gudeg. Kau kan bilang waktu itu, “sebenarnya, saya suka yang manis-manis, tetapi kalau makanan manis dicampur dengan nasi saya kurang suka.” Seperti di Restoran Padang yang sering kau kunjungi, di warung nasi Kapau pun kau lebih baik menggunakan jari tangan saja waktu menyantapnya, lebih mantap.

Baru-baru saya mulai rutin lagi menulis di blog bersama seorang kawan. Sekali waktu modem saya hilang, pulsa habis, dan jaringan internet di kantor pun diputus. Akhirnya saya pergi mencari warnet, namun seperti juga wartel yang pernah kau ceritakan, di Jakarta kini susah menemukan warnet. Orang-orang sudah beralih ke smartphone untuk mengakses internet. Dunia benar-benar telah berada di genggaman jari. 

Setelah berputar-putar keluar-masuk gang, akhirnya saya menemukan warnet yang jaraknya cukup jauh dari rumah kontrakan. Pengunjungnya sepi, dan jaringannya sungguh menjengkelkan; lelet bukan main. Kau mungkin terpesona dengan sikap nrimo sebagian orang Indonesia pada hal-hal yang kadang menjengkelkan, namun ketahuilah itu hanyalah pandangan subjektifmu saja.

Kato San yang baik,

Selama kita berkawan dan membicarakan banyak hal waktu kau tinggal di Jakarta, saya menangkap semacam kebenaran umum, bahwa orang-orang asing yang tidak terlalu lama tinggal di sini, dan tidak terlampau mengakrabi kehidupan sehari-hari, selalu merasakan kesan yang bagus pada Indonesia, khususnya kota Jakarta. 

Atau semacam apresiasi pada kondisi kontras antara satu budaya dengan budaya yang lain. Maksud saya, seperti halnya turis-turis dari Barat, mereka selalu tertarik dengan hal-hal yang mungkin tidak mereka temui di kehidupan sehari-harinya. Misalnya, mereka terpukau dengan budaya Bali yang religius; persembahan, do’a, dan sesaji setiap hari.

Kau pun saya pikir tak jauh berbeda. Waktu di Jepang orang-orang bilang, “berusahalah dengan baik,” sedangkan di sini seperti yang kau katakan, “janganlah terburu-buru begitu!.” Sebuah budaya yang bertolak belakang sama sekali, kemudian kau terpesona. 

Tidak ada yang salah memang, karena seperti juga orang-orang Melayu dalam buku Edensor karangan Andrea Hirata—nanti kalau kau ke sini lagi saya pinjamkan, mereka juga terpukau dengan keindahan Eiffel di Paris, bahkan pada nama seorang warga Perancis sekali pun! Ya, kontras ragam budaya adalah semacam mataair yang tak henti-hentinya mengalirkan ketertarikan-ketertarikan manusia.

Pada kesempatan ini, saya sebenarnya ingin sekali menulis banyak hal tentang Jakarta hari ini, Jakarta yang setelah kepulanganmu ke negeri leluhur, terus berubah dan menyisakan banyak ironi. Saya tidak tahu, kalau kau datang lagi ke Jakarta, apakah kau masih tetap mencintainya atau malah sebaliknya. Bahwa pada akhirnya kau menulis buku tentang kerinduanmu pada Indonesia saya ucapkan terimakasih. Bagaimana pun, setiap orang berhak mengungkapkan perasaan dan pengalaman hidupnya.

Sampai di sini dulu surat saya, Kato San. Lain waktu insyaAllah disambung lagi.

Salam

Denting Piano untuk Sebuah Fragmen

Kau pun tahu, di saat hujan rajin mengguyur Jakarta akhir-akhir ini, frekuensi saya pergi ke warung kopi menjadi meningkat. Tidak melulu minum kopi memang, adakalanya memesan mie rebus atau bubur kacang ijo. Namun apa pun menunya, selalu saja ada orang yang bisa diajak bicara; entah itu si Ijong (penjual kopi), tukang ojek, mahasiswa berkantong pas-pasan, tukang judi bola, pengangguran, atau sekali waktu pernah juga ngobrol dengan seorang perempuan cantik. Masih muda, umurnya sekira terpaut empat tahun di bawah saya. Tak sempat bertanya tentang nama, pekerjaan dan rumahnya, karena pembicaraan dengan cepat bergulir.

Mula-mula saya terpikat dengan kecantikannya, namun selain itu dia juga punya selera musik yang bagus. Darinya saya kemudian tahu kalo Jaya Suprana, seorang tua yang kerap terlihat berat dan ringkih rupanya pernah belajar piano di Jerman. Waktu beliau masih muda, seorang mahapianis Friderich Gulda pernah berkomentar bahwa pianis dari Indonesia ini memiliki bakat musik dan pianistik “extraordinaire”.

Dalam usianya yang sudah lebih dari 60 tahun, kini Jaya Suprana, seperti kata perempuan cantik itu, “mendayagunakan perbendaharaan teknik pianistik termasuk teknik olah warna bunyi, dan belaian jari-jemari ‘extraordinaire’ pada gamitan pianoforte untuk menafsirkan dan menjabarkan mahakarya-mahakarya penggubah lagu Indonesia yang namanya diabadikan dalam sebuah taman pusat kesenian di Jakarta; Ismail Marzuki.”

Ketika hujan mulai reda, dan malam beranjak, perempuan itu mengeluarkan sebuah CD musik. “Kau cobalah dengar ini, semoga suka. Minggu depan kita ketemu lagi di sini.” Kemudian dia pamit tanpa sempat saya dapatkan nomor ponsel atau PIN BB-nya.

Di kamar kontrakan, sambil rebahan di kasur, saya coba putar CD musik itu. Sementara pikiran melayang ke perempuan cantik tadi. Sebentar saya sempat menebak-nebak ihwal nama, pekerjaan dan alamat rumahnya, namun kantuk sudah tiba di pelupuk mata. Dan saya terbang entah ke mana…

***

Saya setengah tak percaya, perempuan cantik itu tengah duduk di bangku kereta. “Hai”, lambaian tangannya mengantarkan saya untuk mendekatinya. “Kamu dari mana?” hanya senyuman, tak ada jawaban. Ya, senyum yang gilang-gemilang, tak jemu dipandangnya, seperti bintang timur yang sedang mengembang. Dia kemudian mengulurkan tangan, “Aryati.” Hampir saja tangannya saya cium, namun siapa yang berani melakukannya pada seorang seni pujaan seperti dia. Dan pembicaraan mengalir seiring kereta yang terus melaju. Tak terasa kereta telah tiba di station Jatinegara, kami harus berpisah. Sebelum turun, dia menyelipkan secarik kertas ke saku kemeja; sebuah alamat rumah.

Maka sudah dapat ditebak kelanjutannya. Kamar kontrakan tiba-tiba sesak oleh rindu. Wajah yang seperti lukisan menerbitkan imajinasi tentang kumbang dan bulan. Ada perasaan terlampau jauh untuk menjangkaunya. Seorang penggubah lagu menulisnya begini, “mungkinkah bulan merindukan kumbang, dapatkan kumbang mencapai rembulan.”

Namun ditakdirkan terlahir sebagai laki-laki tak ada alasan untuk mundur sebelum bertempur. Esok harinya, ketika hari sedang libur, saya meluncur ke alamat yang tertulis di kertas yang diselipkan Aryati. Dalam perjalanan, sepasang mata bola seperti tengah memperhatikan. Barangkali pemilik sepasang mata bola itu bertanya-tanya, “hendak pergi ke mana kau anak muda?” Ikuti saja, kau pun akan tahu siapa yang akan menyambut di pintu rumah itu. Dengan menunaikan kerinduan ini, saya adalah pahlawan bagi diri saya sendiri.

Hujan titik-titik turun. Sekira dua puluh meter dari gang tempat saya masuk, seseorang tengah melindungi dirinya dengan payung. Resam tubuhnya begitu memesona. Dari perempuan dan payung itu lahirlah fantasi, dan bertubi-tubi sehimpunan pertanyaan; Siapa gerangan?, apakah bidadari dari surga atau burung kenari?. Siapa gerangan?, cendrawasih dari bulan ataukah si bintang siang?.

Saya mempercepat langkah hendak mengejarnya. Tepat di depan sebuah rumah, dia membuka pintu pagar. Lalu wajah yang sedari tadi tersembunyi tiba-tiba menampakkan cantiknya. “Aryati!” Senyuman mengembang, dan di beranda rumahnya kami membicarakan banyak hal. Salahsatu yang saya ingat, kami membicarakan kiprah para srikandi bangsa di masalalu. Waktu Jakarta dikuasai Belanda dan sekutu, di tapal batas Bekasi sebagai basis tentara republik, banyak remaja putri yang bahu-membahu membantu para pemuda. Mereka mengangkat senjata, merawat korban pertempuran, dan sibuk di dapur pusat logistik. Dengan simpati yang dalam, Aryati menyebutnya “Melati di Tapal Batas”.

Namun yang paling saya ingat adalah sedikit perdebatan tentang gender. Saya berjejak pada pendapat bahwa pria ditakdirkan berkuasa atas wanita, dan wanita kerap dijajah pria dari dulu, begitu kenyataannya. Siapa yang bisa menyangkal jika wanita adalah perhiasan sangkar madu?. Aryati tak sepenuhnya setuju. Paras cantiknya kemerah-merahan ketika dia mengungkapkan pendapatnya. Di penghujung kuasa katanya, dia berucap, “Benar wanitu itu lemah, lembut, dan manja. Namun adakalanya pria tak berdaya, dia bisa tekuk lutut di sudut kerling wanita.” Jleb!. Begitu menghujam.

Kemudian hari menjadi sore setelah itu. Saya pamit hendak pulang. Aryati mengantar sampai ke pintu pagar. Setengah berbisik dia berkata, “Besok aku hendak pulang ke Bandung Selatan. Entah kapan kita bisa bertemu lagi, bawalah ini sebagai kenang-kenangan,” dia memberikan sebuah sapu tangan. Hujan pertanyaan begitu deras di kepala. Namun sebelum satu pun terjawab, Aryati telah kembali ke dalam rumah.

Sayap ini terasa patah. Jalan pun berat. Bagaimana caranya mendefinisikan perasaan yang baru kuncup, lalu tiba-tiba layu sebelum benar-benar berkembang. Aryati hendak pergi, dan jarak geografis yang membentang telah menghadang di depan. Hujan kembali turun, sekali ini begitu deras. Pandangan kabur. Pada sebuah belokan yang licin kaki terpeleset, dan tubuh menghantam bumi.

***

Setengah sadar saya mengerang memegangi kepala yang membentur tembok kamar. Rupanya tadi saya bermimpi. Sementara laptop masih memutar denting piano Jaya Suprana memainkan lagu-lagu gubahan Ismail Marzuki. [ ]

Lonceng Kematian Toko Buku

Sekira empat tahun yang lalu, di jalan Sumur Batu, persis di sebelah jembatan terdapat kios buku. Tapi kini sudah berganti menjadi warteg.

Mbak penjaga kios itu sering terlihat terkantuk-kantuk. Pengunjung sepi. Seringkali saya dapati, hanya saya sendiri yang tengah melihat-lihat buku yang berjajar memenuhi rak. Saya membeli beberapa buku dakwah dan pergerakan Islam di sana. Dalam benak sering bertanya-tanya, “dengan pengunjung yang sangat minimal, apakah kios buku ini bisa bertahan lama?” Lalu empat bulan setelah itu, kios buku tutup. Dan empat hari setelahnya, buku berganti dengan menu makan sehari-hari.

Alangkah cepat aksara terenggut dari lalu-lintas ekonomi. Saya sedikit menyesali kematian kios buku ini. Namun kenyaatan tak bisa dipungkiri, orang-orang masih lebih membutuhkan makanan daripada sebuhul imajinasi. Setidaknya di jalan Sumur Batu.

***

Kemarin, sehabis menjenguk seorang kawan di rumah sakit Persahabatan, Rawamangun, untuk kesekian kalinya saya sempat juga singgah ke toko buku Eureka di jalan Balai Pustaka. Tidak seperti biasanya. Jika hari-hari sebelumnya toko buku ini sepi, maka saat itu keadaannya berubah; menjadi sangat sepi.

Seorang mbak kasir yang manis melemparkan senyum, namun terasa getir. Hampir semua barang dikenakan diskon. Rak-rak buku banyak yang kosong, CD musik tinggal tersisa beberapa keping, dan majalah-majalah telah hilang. Tangga menuju lantai dua sudah tidak ada, satpam yang biasa membukakan pintu entah ke mana, dia juga tiada. Waktu saya bertanya ihwal beberapa “kehilangan”, mbak kasir manis menjawab, “mau segera tutup mas.” Dari jawabannya tersimpan nada suara tentang pekerjaan yang akan segera lenyap.
Di pojok ada bocah dan ibunya yang sedang membuka-buka buku pelajaran. Sementara di pojok yang lain seorang bapak sibuk memilih buku-buku entah apa. Saya sendiri pada akhirnya hanya membeli sekeping CD Efek Rumah Kaca; Kamar Gelap. Waktu bayar senyum manisnya timbul lagi.

***

Saya telah mencoba sinis, namun tidak bisa. Ihwal kios dan toko buku yang gulung tikar itu saya pikir karena kesalahan strategi. Posisi tempat menjadi kunci. Bukan salah jalan Sumur Batu dan Balai Pustaka, namun jika kita lihat pasar buku di Senen dan Palasari, adakalanya barang seperti itu memerlukan sistem oligopoly, pasar barang sejenis.

Dengan Gramedia sebagai pengecualian (meskipun Gramedia ITC Cempaka Mas tutup juga), contoh lain adalah tentang sepinya toko Gunung Agung yang terletak di depan Markas Marinir di Kwitang. Toko Gunung Agung lama yang terdapat tidak jauh dari halte bus way Senen cenderung lebih ramai, karena di sebelahnya ada beberapa toko buku kecil yang masih bertahan. Tidak bisa dibohongi, bahwa calon pembeli seringkali membutuhkan pembanding sebelum memutuskan membeli suatu barang.

Di jalan Sumur Batu yang nampak hanyalah warung-warung kecil yang menjual rokok dan sembako. Kalau sore tiba, trotoar dan bahu jalan dikusai tenda-tenda biru para penjaja makanan. Toko buku yang telah gulung tikar persis sendirian di tengah kepungan niaga pangan. Pun begitu, meskipun di ujung jalan Balai Pustaka berjajar warung-warung fotocopy dan ATK, namun posisi Eureka dikepung para penjual makanan.

Harga pun tidak bersaing, dengan jumlah koleksi buku yang sangat lebih sedikit dibandingkan toko buku raksasa, Eureka nyaris tidak punya daya jual yang kuat selain interior yang didesain cukup nyaman. Maka lonceng kematian pun berbunyi. Dalam bauran pemasaran kita mengenal empat pilar; product, place, price, promotion. Kiranya teori lama itu masih ampuh mencekik siapa saja yang abai kepadanya.

Maka pada beberapa kasus toko buku yang sepi pengunjung dan kemudian gulung tikar, muncul sebuah kesadaran bahwa selain minat baca yang masih kurang menggembirakan, juga strategi pemasaran menjadi ujung tombak. Idealisme koyak bersama pasar yang sepi, sementara pemasukan harus tetap terjaga demi keberlangsungan hidup.

Waktu mendengarkan Jangan Bakar Buku dari ERK, saya kira lirik ini bisa ditujukan kepada apa pun, termasuk kepada lemahnya strategi pemasaran :
Kata demi kata mengantarkan fantasi
Habis sudah, habis sudah
Bait demi bait pemicu anestesi
Hangus sudah, hangus sudah [ ]

Antara Taman dan Makam

Barangkali tidak kurang dari dua kali saya pernah melihat mobil tangki itu. Pertama di sekitar Monas, malam hari waktu pulang ke arah Pulo Gadung dengan Transjakarta. Yang kedua di Bandung, di gerbang komplek Batu Nunggal, tepat dari pinggir jalan yang bernama Jalan Waas. Mobil tangki berisi air itu bertuliskan “Dinas Pertamanan dan Pemakaman”. Taman dan makam. Kenapa dua urusan ini digabungkan dalam satu organisasi?. Bukankan taman terkait dengan hal-hal keindahan, dan makam berurusan dengan kematian, sesuatu yang sering dipersepsikan menakutkan?.

Bre Redana sempat menulis, bahwa keindahan dan kematian umumnya hanya dilakukan di ranah filsafat. Para filsuf suka menghubung-hubungkan keduanya, katanya. Dia menambahkan, “apakah pencipta struktur birokrasi pemerintahan di Indonesia ‘seprogresif’ para filsuf pemikirannya?”

Pertanyaan itu, di benak saya, sekarang perlahan mulai mencair. Saya menyangka, jangan-jangan yang memutuskan penamaan dinas itu adalah seseorang yang pada malam pergantian tahun duduk di jemuran, melihat kembang api di udara, dan ber-solilokui, nggremeng, bicara sendiri; dalam hati. Dia melihat ulang masalalunya.

Goenawan Mohamad, dalam Caping edisi 26 November 2013 menulis, “Kadang-kadang orang merasa perlu untuk lepas dari sejarah, telanjang kembali di pulau imajiner yang tak bercatat, karena peradaban bisa menakutkan.”

Tapi memang hanya sebatas “merasa perlu”, sebab pada kenyataannya tak seorang pun bisa melepaskan diri dari jubah sejarah yang telah ditorehkan dan mengiringinya. Kita tak bisa lagi “telanjang” seperti waktu baru lahir, sebab jubah sejarah diciptakan seiring pergerakan waktu, dia adalah satuan saat yang diisi dengan laku badan dan pikiran. Laksana air, sejarah mengalir perlahan, dia menghentak jika hanya ada angin sebagai kehendak.

Setiap pribadi mempunyai setapak jalan untuk dilalui sang sejarah, dan terhenti ketika dijemput mati. Maka masalalu tak jarang dianggap penting untuk mengukur sejauh mana “air” mengalir dan “angin” menghentak. Sebagian orang menyebutnya evaluasi, untuk kemudian melahirkan resolusi. Dari evaluasi ke resolusi biasanya terjadi lompatan yang cukup mengagumkan, berisi tentang rencana-rencana hebat yang akan dilakukan. Namun tak jarang resolusi hanya sebuah orgasme akhir tahun yang kemudian mati mengenaskan karena kehilangan konsentrasi.

Bibit-bibit yang akhirnya tewas disembelih waktu itu pada mulanya disemai dari melihat masalalu. Yang terentang di belakang, sesungguhnya adalah kumpulan peristiwa manis dan pahit. Beauty and death. Taman dan makam. Langit jiwa manusia niscaya benderang dan mendung di sepanjang tahun, dia begitu dinamis.

Para mahasiswa melemparkan topi ke udara sambil berpakaian ala Rama Aiphama demi mengalirkan perasaan gembira telah lepas dari “tirani” kampus. Sebagian sibuk berfoto dan cipika-cipiki dengan teman-teman perempuannya. Kelak foto dengan baju kedodoran itu akan dipajang di ruang tamu dengan bangga. Ibunya bergumam, “inilah anakku, dia lulusan terbaik dan bukan sarjana roti wahai kau Iwan Fals!.” Namun tak lama kemudian mahasiswa itu merunduk lesu sebab panggilan kerja belum juga datang, sementara kiriman dari orangtua sudah dihentikan. Cuaca begitu cepat berubah. Di titik ini kita tak memerlukan seorang filsuf untuk menghubungkan bahwa memang taman begitu dekat dengan makam.

Pada masalalu ada kenangan-kenangan manis yang sayang untuk dibuang, ada pula harapan-harapan yang mati terkubur mengenaskan. Manusia hidup di antara dua situasi tersebut. Ada kesuksesan karir, cinta berlabuh di pelaminan, kehadiran anak, dan liburan yang menyenangkan. Namun sekaligus juga ada aib pribadi yang melongsorkan moral, kegagalan wawancara kerja, cinta kandas tersuruk-suruk, dan jatah cuti yang habis tidak dipakai untuk berlibur. Cuaca riwayat kehidupannya senantiasa berubah, dia seperti ingin membenarkan sebuah ungkapan “bahwa yang abadi hanyalah perubahan.”

Saya  teringat pada nama jalan waktu melihat mobil tangki milik Dinas Pertamanan dan Pemakaman di Bandung. “Waas” adalah bahasa Sunda yang secara harfiah berarti terkenang kepada yang pernah dialami. Sekilas scene saya berdiri di Jalan Waas dan membaca tulisan di mobil tangki itu menjadi terkesan puitik. Seperti simbol-simbol yang dihadirkan untuk berlaku adil dalam memperlakukan masalalu.

Beberapa saat setelah masalalu tiba-tiba menjadi masakini, dan masadepan pun telah menunggu. Rangkaian tiga masa inilah yang ditumbuhi taman dan makam. Resolusi kita susun untuk membuat taman, tapi ketika terlahir premature atau bahkan diaborsi, resolusi pun berubah menjadi makam.

Saya tak hendak mengucapkan Selamat Tahun Baru. [ ]