23 September 2015

Yang Hendak Mendongeng di Frankfurt

Sebagai Tamu Kehormatan di acara Frankfurt Book fair 2015, Indonesia membawa tak kurang dari 7 orang penulis buku anak. Karya-karya mereka akan hadir di pameran buku tertua tersebut. Salah satu penulis buku yang tengah mempersiapkan diri adalah Renny Yaniar. Ia telah melahirkan sekitar 250 buku anak berbentuk cerita pendek, dongeng, cerita bergambar, dan komik anak.
Bukunya yang berjudul “Lautan Susu Cokelat” berhasil menyabet juara pertama penghargaan Adikarya untuk kategori buku cerita anak. Penulis yang sempat bergabung dengan Majalah Bobo ini, kini menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Anak-anak Mombi. Salah satu bukunya yang akan dibawa ke Frankfurt, yaitu “Dongeng Kasih Sayang”, sedang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Selain itu, Renny juga akan membawa serta 7 seri animal stories, dan juga buku-buku terbarunya.
Di gelaran buku itu, Renny tak hanya memamerkan karyanya saja, namun ia pun diminta untuk bercerita. “Di Frankfurt, saya akan storytelling sebanyak dua kali. Ceritanya diambil dari buku saya, yaitu ‘The Dancing Fishes’ dan ‘Lumba-lumba’, buku itu dipilih karena saya diminta untuk bercerita dengan tema maritim. Jadi, ya, sekarang saya masih berlatih mendongeng. Semoga pada saatnya semuanya berjalan baik” tuturnya.
Selain itu, Renny pun akan berbicara tentang karya penulis cilik bersama Nadia Shafiana Rahma, yang tak lain adalah penulis KKPK (Kecil-kecil Punya Karya). Karya Nadia sendiri di antaranya; “My Live My Heaven”, dan “ Si Hati Putih”.
Selain “Dongeng Kasih Sayang”, buku Renny belum ada lagi yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing. “Sampai saat ini, berdasarkan info dari penerbit penerbit Kiddo/KPG, baru buku itu saja yang diterjemahkan. Saya belum mendapat info apakah buku dari penerbit lain juga ada yang diterjemahkan atau tidak,” terangnya.
Disinggung apakah jelang Frankfurt Book Fair 2015 ada buku anak yang copyright-nya dibeli oleh penerbit asing, ia berkata, “Setahu saya, Arleen (Amidjaja) yang juga dikirim ke Bologna Book Fair April lalu, berhasil menjual copyright-nya ke penerbit Arab Saudi,” ujarnya. Renny berharap, kesempatan bertemu dengan berbagai penerbit asing di Frankfurt Book Fair nanti, bisa dioptimalkan dengan sebaik-baiknya.
Perkembangan buku anak di Indonesia, menurutnya cukup menjanjikan. Buku anak sekarang banyak, dan ini mendukung perkembangan pasar buku Indonesia yang cukup baik. “Orangtua menjadi punya pilihan untuk anak-anak mereka. Itu berarti setiap penulis pun dituntut untuk lebih aktif menulis dan berpromosi agar karyanya dikenal masyarakat,” ujarnya.

Kehadiran Renny Yaniar di Frankfurt, tentu akan menjadi salah satu wakil dari wajah dunia literasi anak Indonesia kontemporer. Karya-karyanya, juga bagaimana nanti ia berbincang tentang karya penulis cilik, menarik untuk disimak. Dan tak lupa, ia pun akan storytelling. Tema bahari yang akan dibawakannya di acara mendongeng itu, rasanya pas untuk menegaskan Indonesia sebagai negara kepulauan yang penuh dengan imajinasi. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

Usaha Menyapa Ruang Baca Dunia

Sebagai tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015, meskipun persiapannya tidak terlalu panjang, Indonesia telah dan tengah mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk kesempatan yang dipercayakan tersebut. Beberapa buku berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa asing, dan mulai dilirik oleh penerbit luar untuk diterbitkan di negaranya masing-masing.
Setidaknya sudah ada 18 karya yang copyright-nya dibeli terkait pameran buku terbesar di dunia ini, di antaranya; “Amba” karya Laksmi Pamuntjak, “Cantik itu Luka” dari Eka Kurniawan, “Dan Perang pun Usai” tulisan Ismail Marahimin, “Gadis Kretek” karya Ratih Kumala, “Pasung Jiwa” dari Okky Madasari, dan masih banyak lagi.
Keberhasilan ini menambah daftar riwayat panjang karya para penulis Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Dari sekian banyak karya yang diterjemahkan dalam 30 tahun terakhir, ada dua penulis yang begitu menonjol dalam hal jumlah penerjemahan, yaitu; Pramoedya Ananta Toer dan Andrea Hirata. Kedua pengarang ini, bukunya telah diterjemahkan ke lebih dari 10 bahasa asing.
“Bumi Manusia”, bagian pertama dari Kwartet Buru karangan penulis yang hampir sepanjang hidupnya dinista semesta purba penjara, sejak tahun 1980 telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing, di antaranya; “Aarde Der Mensen” (edisi Amsterdam), “Ren Shi Jian (Tiongkok), “This Earth of Mankind” (edisi Australia), “Garten Der Menschheit” (edisi Berlin), “Manniskans Jord” (edisi Swedia), “Ningen No Datchi” (edisi Jepang), “Questa Terra Dell’Uomo” (edisi Milan), “Tierra Humana” (edisi Spanyol), “Menneskenes Jord” (edisi Norwegia), “Le Monde des Hommes” (edisi Prancis), dan lain-lain.
Sementara “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata yang nanti akan ikut dipamerkan di Frankfurt, seperti halnya karya Pramoedya Ananta Toer, sampai hari ini, juga telah diterjemahkan ke banyak bahasa, di antaranya; “La Tropa Del Arco Iris (edisi Spanyol), “The Rainbow Troops” (edisi Australia), “De Regenboogbende” (edisi Belanda), “Die Regenbogen Truppe” (edisi Jerman), “A Vegletek Szigete” (edisi Hungaria), “La Scuola Ai Confini Del Mondo” (edisi Italia), “Guerreiros da Esperanca” (edisi Brazil), “Gokkusagi Askerleri” (edisi Turki), “Chien Binh Cau Vong” (edisi Vietnam), “Les Guerriers de I’arc-en-ciel” (edisi Prancis), dan lain-lain.
Keberhasilan penerjemahan buku ke ragam bahasa warga dunia adalah jalan untuk meluaskan “suara” yang hendak disampaikan si penulis. Dengan penerjemahan--sekadar menyebut contoh, apa yang ingin Pramoedya Ananta Toer sampaikan lewat tokoh Minke yang membenci feodalisme, juga tokoh Nyai Ontosoroh yang berkarakter kuat, dapat lebih mudah dipahami. Roman dengan narasi yang dibangun di titik persalinan bangsa yang begitu pelik, pada akhirnya dapat mengisi ruang baca warga dunia.
Begitu pun dengan yang ingin disuarakan oleh Andrea Hirata lewat “Laskar Pelangi”. Kaum pinggiran yang termarjinalkan secara pendidikan dan ekonomi, dan negara seolah abai kepadanya, dapat dengan leluasa dibaca oleh warga dunia. Ikal, Lintang, Mahar, dan bocah-bocah SD Muhammadiyah lainnya, yang miskin namun menebarkan semangat belajar berpendar-pendar; berlarian, menelusup ke ruang baca yang lebih luas.

Pramoedya Ananta Toer dan Andrea Hirata, dua pengarang yang mewakili dua zaman yang berbeda, suara-suaranya telah sampai ke pojok-pojok jauh dunia. Kini, di Frankfurt, dengan dialiri semangat yang sama dari dua penulis tersebut, kiranya karya para penulis Indonesia yang lain dapat pula menjangkau pembaca yang lebih luas lagi. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

Tere Liye dan Produktifitas yang Diganjar Best Seller

Hari ini, di sebagian besar toko buku di Indonesia, terutama di rak yang menyajikan buku-buku best seller dan “baru rilis”, pasti akan ditemui buku karya Tere Liye (Darwis). Ia memang salah satu penulis Indonesia kontemporer yang paling produktif. Sejak menerbitkan buku “The Gogons; James & The Incredible Incident” di tahun 2006, sampai sekarang tak kurang dari 23 buku yang telah ia terbitkan.
Meski sangat produktif, namun ia menjelaskan bahwa menulis sebenarnya hanya hobi saja, sebab ia sejatinya, atau lebih suka disebut akuntan. Namun memang bakat menulis, juga terutama kebiasaannya dalam menulis, bukanlah riwayat pendek dalam hidupnya. Dalam sebuah acara talk show kepenulisan di Lampung, Tere Liye menjelaskan bahwa dirinya telah menulis sejak usia 9 tahun.
Di usia itu ia kerap mengirimkan cerita anak ke majalah-majalah. Tak semua kirimannya dimuat memang, namun proses itu membuat kebiasaan menulisnya tumbuh subur. Kepada peserta yang hadir di sebuah kampus di Lampung ia bicara, “Bagi saya, menulis itu tidak bisa diajarkan, tapi ditumbuhkan. Di hati kita punya nyala api, saya di sini berusaha menghidupkan nyala api yang kecil itu supaya terang benderang di hati kalian,” tuturnya mantap.
Jika hari-hari ini, kita mendapati buku-bukunya berjajar di rak-rak toko buku, dan mayoritas dihajar stempel best seller, maka itu bukanlah buah dari proses sekejap, namun perjalanan panjang yang sudah diuji waktu.
Buku yang ditulis Tere Liye memiliki tema beragam; dari kisah keluarga, politik, sampai cerita anak-anak. Ia benar-benar menemukan sorot lampu media ketika bukunya yang berjudul “Hafalan Shalat Delisa”, yang terbit di tahun 2007, diadaptasi ke dalam film layar lebar oleh sutradara Sony Gaokasak. Masih di tahun terbit yang sama, ia juga menulis buku “Moga Bunda Disayang Allah”.
Tentang beragamnya topik atau tema penulisan yang ia pilih, Tere Liye menerangkan bahwa sebenarnya menulis bisa apa saja, yang penting sudut pandangnya bagus. Menurutnya, setiap penulis yang baik pasti mempunyai perspektif yang spesial. Namun hal itu tidaklah lahir dengan sendirinya. Sudut pandang yang berbeda dan akhirnya menarik, lahir dari para penulis yang membekali dirinya dengan amunisi.
Amunisi dalam menulis, menurutnya, adalah pembelajaran yang dimiliki dari kebiasaan membaca, mengamati, melakukan observasi, melakukan perjalanan, dan mendengarkan oranglain. Dan seperti halnya para penulis lain, Tere Liye pun sepakat bahwa semuanya bermula dari proses membaca, membaca, dan membaca.
Produktifitas Tere Liye—bagi orang-orang yang tak mengenali proses panjangnya, terkadang sulit dipahami. Betapa tidak, dalam satu tahun ia dapat menerbitkan empat buku sekaligus. Sebagai contoh, di tahun 2011, ia menerbitkan buku; “Kisah Sang Penandai”, “Sunset Bersama Rosie”, “Eliana”, dan “Ayahku (Bukan) Pembohong”. Hal serupa terulang lagi di tahun 2012 ketika ia lagi-lagi menerbitkan empat buku sekaligus dalam tahun yang sama. Sementara di tahun 2014 ia menerbitkan tiga buku, dan di 2009, 2010, 2013, 2015 (setidaknya sampai sekarang), ia masing-masing menerbitkan dua buah buku.
Tak banyak penulis Indonesia kiwari yang mampu berkarya seproduktif Tere Liye. Mengabaikan Tere Liye sebagai salah satu wajah kontemporer dunia kepenulisan Indonesia, rasa-rasa tentu bukanlah pilihan yang tepat, khususnya jika ingin memahami apa yang terjadi di kalangan pembaca.

Tentu saja, seperti juga penulis-penulis yang lain, karya-karya Tere Liye pun memang tidak imun dari perdebatan pro dan kontra, kritik dan komentar memang selalu ada. Namun terlepas dari hal-hal itu, kehadiran buku-buku Tere Liye di Frankfurt, Oktober yang akan datang, adalah ide yang menarik. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

Telegram dari Keremangan yang Khayal dan yang Nyata

Seorang lelaki tengah duduk di rumah kontrakannya. Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk. Di muka sudah berdiri seseorang, lalu memberinya sepucuk telegram; ibu si lelaki tadi meninggal dunia! Itulah kenyataan sesungguhnya yang harus ia hadapi, dan cerita-cerita sebelumnya hanyalah khayalannya belaka.
Itu adalah adegan di penghujung novel “Telegram” karya Putu Wijaya yang diterbitkan mula-mula di tahun 1973 oleh Pustaka Jaya. Novel itu bercerita tentang seorang lelaki yang selalu bersangka buruk terhadap telegram. Dalam benaknya, telegram hanyalah berisi warta-warta tentang kecelakaan, sakit keras, dan kematian.
Dengan kelihaian bercerita, Putu Wijaya membangun khayalan si tokoh dalam fiksi yang ia tulis. Beberapa pembaca menyebutnya sebagai kisah yang penuh dengan disorientasi, sebagian malah tak berhasil memahami alur kisahnya. Khayalan si lelaki terhadap isi telegram dikembangkan Putu Wijaya menjadi sulur-sulur cerita yang kompleks.
Putu seperti hendak menabrak “kejenuhan” karya realisme dengan cara membongkar alur cerita dan penokohan. Dalam “Telegram” tidak mudah untuk membedakan antara khayalan si lelaki dan kenyataan sebenarnya yang ia alami.
Kenyataan bahwa telegram datang ke si lelaki, dan mengabarkan bahwa ibunya meninggal. Tapi sebelum ia membuka dan membaca isinya, pikirannya kadung dikuasai rangkaian kekhawatiran dan ketakutan, yang menyebabkan ia melamunkan dan berbuat banyak hal yang rumit.
Novel setebal 143 halaman ini, selain alurnya yang menarik—juga pilihan kalimatnya, seperti yang pernah ditulis oleh Goenawan Mohamad, “Kita seperti digerakkan magnet kalimat-kalimatnya, bukan dengan deskripsi yang merayu perhatian, tapi dengan kiasan yang berenergi, bahkan ganas dan kadang-kadang menyentak mengerikan.”
“Telegram” memenangi Sayembara Mengarang Roman DKJ tahun 1972. Ihwal ini, Y. B. Mangunwijaya sempat menulis esai yang isinya mengatakan bahwa “Telegram” adalah karya yang matang dan dewasa, dan bentuk bertuturnya dinilai berhasil.
Selain itu, “Telegram” juga pernah diangkat ke layar lebar oleh sutradara Slamet Rahardjo, dalam proyek kerjasama antara Indonesia dan Prancis. Pasca dirilis di tahun 2002, film ini kemudian berhasil menyabet penghargaan di Festival Film Asia pasifik ke-46, sekaligus kategori aktris terbaik pun diraih oleh Ayu Azhari yang tampil di film itu.
Novel ini termasuk salah satu karya sastra yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan oleh Yayasan Lontar. Sementara jelang gelaran Frankfurt Book Fair 2015, novel ini pun diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman oleh penerbit Angkor Verlag dengan judul “Telegramm”.
Penerjemahan novel ini ke dalam beberapa bahasa asing, tentu akan menjadi kesempatan baik untuk memperkenalkan salah satu karya penulis Indonesia, yang bentuk dan gaya bertuturnya dianggap berhasil oleh beberapa kalangan.

Di Frankfurt, “Telegram” akan hadir membawa tokoh-tokohnya yang hidup dalam remang antara khayal dan nyata, untuk dibaca oleh khalayak sastra dunia. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

Teks yang Berlarian ke Frankfurt

Sejak menerbitkan kumpulan puisi “Abad yang Berlari” pada 1984, karya-karya Afrizal Malna, yang tak melulu puisi, kerap “dikeluhkan” para pembaca sebagai karya yang sulit dimengerti. Dan “ketidakmengertian” para pembaca ini kadang masih terdengar sampai sekarang, ketika si pengarang cum penyair ini masih produktif menulis di berbagai surat kabar.
Ketika menulis pengantar untuk buku kumpulan prosanya yang berjudul “Seperti Sebuah Novel yang Malas Mengisahkan Manusia”, Afrizal Malna mencoba mengidentifikasi dirinya sebagai seorang pengarang yang “peduli dengan begitu banyak lorong dalam bahasa”. Menurutnya, ia memahami kerja dalam kesusastraan seperti ledakan dalam sebuah bangunan dan strukturnya melarikan diri lalu membuat bangunan yang lain.
Sementara dalam sebuah kesempatan wawancara dengan Emilio Arauxo (salah seorang penerjemah karyanya), Afrizal mengatakan, dan ini semacam konsepsi kepenyairannya, “Pengalaman saya dalam menulis puisi membawa saya kepada pemahaman terhadap bahasa yang terbuka. Puisi tidak menciptakan bahasa baru dalam bahasa, melainkan memainkan medan bahasa yang hidup dalam berbagai gejala komunikasi di sekitar kita dalam rangka sebuah permainan lain di medan politik pemaknaan. Bahasa dalam banyak kerja penulisan puisi-puisi saya lebih banyak dilahirkan lewat cara berpikir dengan gambar dan benda-benda.”
“Lorong”, “melarikan diri”, “permainan”, dan “politik pemaknaan”, setidaknya empat hal itu yang dapat diidentifikasi dari dua pernyataan Afrizal tersebut. Dari empat hal itu, barangkali sebagian “keidakmengertian” karya-karyanya bermula.
“Lorong-lari-main-politik”; rasa-rasanya bukanlah kumpulan kata yang bermakna statis, diam, dan lalu mudah untuk “ditangkap”, namun justru sebaliknya. Dalam “lorong” selalu ada kemungkinan situasi yang tak berujung, sementara “lari” jelas adalah kata kerja yang lahir karena adanya gerak, dan gerak adalah perlawanan terhadap diam. Kata “main” juga bukanlah sebuah makna diam, ia seringkali bermakna sebagai proses menuju kegembiraan yang lahir dari adanya gerak—fisik ataupun pikiran (imajinasi). Lalu “politik”, juga adalah gerak dinamis dalam soal siasat dan tata kelola.
Dari penggeledahan beberapa kata tersebut, jelas bahwa karya-karya Afrizal memang tidak dilahirkan—terutama, untuk diam dan lalu mudah dipahami, tapi ia seringkali menghembuskan “anak-anak rohaninya” sebagai wujud teks dalam bentuknya yang bebas berlari dan bermain di lorong bahasa yang mungkin tak berujung.
Pada sebuah catatan pengantar untuk novelnya yang berjudul “Lubang dari Separuh Langit” yang terbit pada tahun 2004, ia lagi-lagi menegaskan “keteguhan”nya terhadap pemilihan gerak.
Begini tulisnya, “Novel untuk saya adalah dunia di mana manusia seperti memiliki kesempatan untuk masuk ke dalam ususnya dan meledakkan dengkulnya menjelang tidur. Pada momen-momen tertentu, berhadapan dengan seseorang kadang saya rasakan sedang berhadapan dengan waktu yang bergerak berantakan, dan manusia adalah makhluk yang tidak bisa berjalan mundur.”
Karya penyair kelahiran Jakarta ini pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh John H. McGlynn, Linda Owens, Marianne Konig, Michael Bodden, Sarah Nuranto, dan Taufik Ismail. Buku berisi 19 sajak Afrizal itu kemudian diberi judul “Biography of Reading”.
Di Frankfurt, karya-karya “gerak” Afrizal akan ikut dipamerkan. Teks-teks yang sudah ia lahirkan akan berlesatan dan hinggap di ruang-ruang imajinasi publik dunia. Adalah menjadi tidak penting, apakah akhirnya tulisan-tulisan Afrizal bisa dimengerti atau tidak, bisa dinikmati atau sebaliknya, namun dari sini; minimal bisa mengenalkan satu bentuk ekspresi dari sastrawan Indonesia.
Ekspresi yang, seperti kata Afrizal, “sebuah kerja metaforis melalui transformasi pesan, dislokasi konteks dan latar, alurnya lebih sebuah komposisi musik atau gerak daripada sebagai kereta sambung untuk jalannya cerita.”

Pada karya-karyanya terpahat narasi tentang salah satu pelaku sastra Indonesia yang sangat sadar tentang kekuatan bahasa Indonesia, berikut lorong-lorong yang kadang penuh jebakan makna. Dan Oktober nanti karya-karyanya akan “melarikan diri” ke Frankfurt. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.